Kamis, 05 Januari 2012

Pendekatan, Metode, Model, Strategi dan Teknik Pembelajaran

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.            Latar belakang
Masalah yang terbesar pada kemajuan negara adalah pendidikan sebagai ujung tombaknya. Setiap negara – negara maju pasti memiliki sistem pendidikan yang baik. Sehingga sumber daya manusia (SDM) dapat dengan maksimal dimanfaatkan, begitu pula sebaliknya yang terjadi pada negara berkembang maupun negara tertinggal sebagian besar faktor penyebabnya adalah karena pendidikan. Entah dimana letak kesalahannya sehingga dunia pendidikan di Indonesia seolah – olah selalu mengalami gagal. Seperti kurang maksimalnya penyampaian materi, adanya guru yang tidak hadir sehingga kegiatan belajar terbengkalai sampai – sampai sistem ujian yang tidak terlupa dari praktek kecurangan.
Pada semester III (Ganjil) ini, Kami belajar mata kuliah Dasar – dasar MIPA dan pada BAB awal akan dibahas materi mengenai “Arti Pendidikan dan Pendidikan di Indonesia”. Agar pencapaian indikator dapat maksimal, kami diberi tugas untuk membuat makalah dengan bahasan tersebut. Karena dengan adanya makalah yang nantinya didiskusikan dapat menambah wawasan mahasiswa dalam materi tersebut.

1.2.            Rumusan masalah
Adapun rumusan masalah dalam pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut.
1.      Apa yang dimaksud dengan pendekatan, metode, model, strategi, dan tehnik pembelajaran ?
2.      Manakah urutan antara kesemua unsur tersebut yang paling umun kepada yang khusus  ?

1.3.            Tujuan makalah
Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk.
1.      Menjelaskan pengertian dari pendekatan, metode, model, strategi, dan tehnik pembelajaran.
2.      Menjelaskan urutan secara terstruktur dari masing – masing unsur tersebut dari yang paling bersifat umum sampai kepada yang paling bersifat khusus.

1.4.            Manfaat makalah
Adapun manfaat makalah yang diharapkan akan tercapai oleh kelompok penulis adalah sebagai berikut.
1.      Dapat memberi asumsi lebih mengenai pendidikan.
2.      Dapat dijadikan acauan mengenai bagaimana pemberian pembelajaran oleh seorang pendidik kepada siswa.
3.      Dapat menjadi bahan perkuliahan yang merupakan rangkuman dari berbagai sumber.

BAB II
PEMBAHASAN
A.     Pendekatan Pembelajaran
1.1 Pengertian Pendekatan
Mendefinisikan pendekatan pembelajaran perlu dipahami arti dan masing-masing kalimat tersebut Depdikbud (1990: 180) pendekatan dapat diartikan, “sebagai proses, perbuatan, atau cara untuk mendekati sesuatu”. Menurut Suharno, Sukardi, Chodijah dan Suwalni (1998: 25) bahwa, “pendekatan pembelajaran diartikan model pembelajaran”. Sedangkan pembelajaran menuzut H.J. Gino dkk. (1998:32) bahwa, “pembelajaran atau intruction merupakan usaha sadar dan disengaja oleh guru untuk membuat siswa belajar dengan tujuan mengaktifkan faktor intern dan faktor ekstern dalam kegiatan belajar mengajar”. Sukintaka (2004: 55) bahwa, “pembelajaran mengandung pengertian, bagaimana para guru mengajarkan sesuatu kepada peserta didik, tetapi di samping itu juga terjadi peristiwa bagaimana peserta didik mempelajarinya”.
Berdasarkan pengertian pendekatan dan pembelajaran tersebut dapat disimpulkan bahwa, pendekatan pembelajaran merupakan cara kerja mempunyai sistem untuk memudahkan pelaksanaan proses pembelajaran dan membelajarkan siswa guna membantu dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Hal ini sesuai pendapat Wahjoedi (1999 121) bahwa, “pendekatan pembelajaran adalah cara mengelola kegiatan belajar dan perilaku siswa agar ia dapat aktif melakukan tugas belajar sehingga dapat memperoleh hasil belajar secara optimal”. Menurut Syaifuddin Sagala (2005: 68) bahwa, “Pendekatan pembelajaran merupakan jalan yang akan ditcmpuh oleh guru dan siswa dalam mencapai tujuan instruksional untuk suatu satuan instruksional tertentu”.
Pendekatan pembelajaran juga dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).
1.2 Macam-macam Pendekatan
 Erman Suherman (2003) mengemukakan empat jenis pendekatan yakni:
1)        Pendekatan Konstruktivisme.
 Dalam pendekatan ini, para siswa diberdayakan oleh pengetahuannya yang berada dalam diri mereka. Mereka akan berbagi strategi dan penyelesaian, debat dengan siswa lainnya, berpikir secara kritis tentang cara terbaik untuk menyelesaikan masalah;
2)        Pendekatan Pemecahan Masalah.
 Ketika proses pembelajaran di kelas berlangsung, guru terlebih dahulu mnghadapkan siswa pada sebuah masalah, dan menugaskan siswa untuk mencari solusi yang bisa digunakan untuk memecahkan masalah tersebut, hingga akhirnya siswa memperoleh pengetahuan sesuai dengan tujuan pembelajaran tersebut;
3)       Pendekatan Open-Ended.
 Pada pendekatan ini sebenarnya hampir mirip dengan pendekatan pemecahan masalah, hanya saja dalam pendekatan ini siswa dihadapkan pada suatu permasalahan yang sifatnya terbuka, dalam artian memungkinkan adanya banyak alternatif jawaban. Sehingga dari jawaban-jawaban tersebut, siswa diarahkan untuk memahami konsep atau pengetahuan yang harus dimiliki; dan
4)       Pendekatan Realistik.
Dalam hal ini siswa diberikan permasalahan yang bersifat realistik, yang berarti permasalahan-permasalahan yang bisa dipecahkan oleh siswa berdasarkan daya nalarnya sendiri.

Aswan Zain, et al (2006) memberikan contoh pendekatan yang dibagi menjadi empat, yaitu:
1. Pendekatan Individual:
pendekatan yang dilakukan oleh guru dengan memahami karakter atau watak dari setiap siswa. Karakter siswa dalam sebuah kelas tentu
berbeda-beda. Agar benar-benar memahami karakter siswa ini, guru harus melakukan
pendekatan secara individu. Dengan pendekatan ini, guru akan lebih mudah memahami
karakter siswa, disamping juga persoalan kesulitan belajar siswa lebih mudah
dipecahkan, meskipun terkadang pendekatan kelompok diperlukan.
2. Pendekatan Kelompok:
pendekatan kelompok ini suatu waktu bisa dipergunakan dan
perlu digunakan untuk membina dan mengembangkan sikap sosial siswa. Dengan
pendekatan ini diharapkan dapat ditumbuh kembangkan rasa sosial yang tinggi pada
diri setiap siswa.
3. Pendekatan Bervariasi:
dalam belajar, siswa memiliki motivasi yang berbeda-beda, termasuk juga permasalahan yang dihadapi siswa bervariasi. Guna mengatasi hal ini, pendekatan yang digunakan lebih tepat dengan pendekatan bervariasi. Hal ini  berdasarkan konsep bahwa permasalahan yang  ihadapi oleh setiap siswa dalam belajar bermacam-macam, sehingga diperlukan variasi teknik pemecahan untuk setiap kasus tersebut.
4. Pendekatan Edukatif:
setiap tindakan, sikap, perbuatan yang dilakukan guru harus  bernilai pendidikan, dengan tujuan untuk mendidik siswa agar menghargai normahukum, susila, sosial, dan agama. Pendekatan ini juga bertujuan untuk membina watak siswa.
Berdasarkan pemerolehan bahan pembelajaran, secara garis besar pendekatan pembelajaran dapat dibedakan menjadi dua, yaitu pendekatan konsep dan pendekatan proses.
1.        Pendekatan konsep
 Lebih banyak bergantung pada apa yang diajarkan guru berupa bahan atau isi pelajaran, dan lebih bersifat kognitif.
2.        Pendekatan Keterampilan Proses
Pendekatan keterampilan proses menekankan pentingnya kebermaknaan belajar untuk mencapai hasil yang memadai. Selain itu, pendekatan keterampilan proses juga menekankan pentingkan keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran dan menekankan pada hasil belajar secara tuntas.
            Ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk membantu guru dalam mememacahkan masalah kegiatan belajar-mengajar, Syaiful Bahri (2006) membagi pendekatan menjadi sembilan jenis yaitu; pendekatan individual, pendekatan kelompok, pendekatan bervariasi, pendekatan edukatif pendekatan pengalaman, pendekatan pembiasaan, pendekatan emosional, pendekatan rasional, pendekatan fungsional, pendekatan keagamaan, dan pendekatan kebermaknaan.
1.      Pendekatan Individual
Pendekatan individual mempunyai arti yang sangat penting bagi kepentingan pembelajaran. Pengelolaan kelas sangat memerlukan pendekatan individual ini. Pemilihan metode harus didasari oleh kegunaan pendkatan individual sehingga dalam proses pembelajaran di kelas guru akan memperhatikan perserta didik secara individu. Dengan demikian kesulitan belajar peserta didik lebih mudah dipecahkan, walaupun suatu saat pendekatan kelompok diperlukan.
Pada kasus-kasus tertentu yang timbul dalam kegiatan belajar-mengajar, dapat diatasi dengan pendekatan individual, misalnya untuk menghentikan peserta didik yang suka bicara. Dalam kasus ini dapat digunakan memisahkan/ memindahkan salah satu peserta didik tersebut pada tempat yang terpisah dengan jarak yang cukup jauh. Peserta didik yang suka bicara ditempatkan pada kelompok peserta didik yang pendiam.

2.      Pendekatan Kelompok
Dalam kegiatan belajar mengajar kadang-kadang ada juga guru yang menggunakan pendekatan lain, yakni pendekatan kelompok. Pendekatan kelompok memang suatu waktu diperlukan dan perlu digunakan untuk membina dan mengembangkan sikap sosial peserta didik. Hal ini disadari bahwa peserta didik adalah sejenis makhluk homo socius, yakni makhluk yang berkecenderungan untuk hidup bersama.
Kelebihan :
Dengan pendekatan kelompok, diharapkan dapat tumbuh dan berkembang rasa sosial yang tinggi pada diri setiap peserta didik. Mereka dibina untuk mengendalikan rasa egois yang ada dalam diri mereka masing-masing, sehingga terbentuk sikap kesetiakawanan sosial di kelas. Tentu saja dalam hal sikap kesetiakawanan sosial yang positif. Mereka sadar bahwa hidup ini saling ketergantungan, seperti ekosistem dalam mata rantai kehidupan semua makhluk hidup di dunia. Tidak ada makhluk hidup yang terus menerus berdiri sendiri tanpa keterlibatan makhluk lain, langsung atau tidak langsung, disadari atau tidak, makhluk lain itu ikut ambil bagian dalam kehidupan makhluk tertentu.
Peserta didik yang dibiasakan hidup bersama dan bekerja sama dalam kelompok, akan menyadari bahwa dirinya ada kekurangan dan kelebihan. Yang mempunyai kelebihan dengan ikhlas mau membantu mereka yang mempunyai kekurangan. Sebaliknya, mereka yang mempunyai kekurangan dengan rela hati mau belajar dari mereka yang mempunyai kelebihan tanpa ada rasa minder. Persaingan yang positif pun dapat terjadi di kelas dalam rangka mencapai prestasi belajar yang optimal. Inilah yang diharapkan, yakni peserta didik y aktif, kreatif, dan mandiri.
Kelemahan :
Ketika guru ingin menggunakan pendekatan kelompok, guru harus mempertimbangkan bahwa hal itu tidak bertentangan dengan tujuan, sesuai dengan fasilitas belajar pendukung yang ada, metode yang akan dipakai sudah dikuasai, dan bahan yang akan diberikan kepada peserta didik cocok. Karena itu, pendekatan kelompok tidak bisa dilakukan secara sembarangan, tetapi banyak hal yang berpengaruh yang harus dipertimbangkan dalam penggunaannya.
Langkah-langkah :
Dalam pengelolaan kelas, terutama yang berhubungan dengan penempatan peserta didik, pendekatan kelompok sangat diperlukan. Perbedaan individual peserta didik pada aspek biologis, intelektual, dan psikologis dapat dijadikan sebagai pijakan dalam menentukan pendekatan kelompok.

3.      Pendekatan Bervariasi
Ketika guru dihadapkan kepada permasalahan peserta didik yang bermasalah, guru akan berhadapan dengan permasalahan peserta didik yang bervariasi. Setiap masalah yang dihadapi oleh peserta didik tidak selalu sama, terkadang ada perbedaan dalam belajar, misalnya dalam hal motivasi. Ada peserta didik yang memiliki motivasi rendah, dan ada yang bergairah belajar, ada pula yang kurang bergairah. Diantara mereka ada yang duduk dan berbicara (berbincang-bincang) satu sama lain tentang hal¬-hal lain yang tidak ada kaitannya dengan masalah pelajaran.
Langkah-langkah :
Dalam kegiatan belajar mengajar, guru bisa saja membagi peserta didik ke dalam beberapa kelompok belajar. Tetapi dalam hal ini, terkadang diperlukan juga pendapat dan kemauan peserta didik. Bagaimana keinginan mereka masing-masing. Boleh jadi dalam suatu pertemuan ada peserta didik yang suka belajar dalam kelompok, tetapi ada juga peserta didik yang senang belajar sendiri. Bila hal ini terjadi, ada dua kemungkinan yang terjadi yaitu, belajar dalam kelompok dan belajar sendiri. Akan tetapi semua masih dalam pengawasan dan bimbingan guru.
Permasalahan yang dihadapi oleh setiap peserta didik biasanya bervariasi, untuk itu pendekatan yang digunakan guru pun akan lebih tepat kalau bervariasi pula. Misalnya, peserta didik yang tidak disiplin dan peserta didik yang suka berbicara memiliki pemecahannya dan menghendaki pendekatan yang berbeda pula. Demikian juga halnya terhadap peserta didik yang membuat keributan. Guru tidak bisa menggunakan teknik pemecahan yang sama dengan teknik memecahkan permasalahan yang lain. Kalaupun ada, itu hanya pada kasus tertentu. Perbedaan dalam teknik pemecahan kasus itulah merupakan implikasi “pendekatan bervariasi. “
Kelebihan :
Guru menjadi kreatif, karena mempunyai berbagai metode dalam pemecahan masalah siswa.
Guru mempunyai berbagai taktik dalam pembelajaran.
Siswa tidak merasa bosan, karena cara yang digunakan guru tidak monoton.
Kelemahan :
Guru harus mempunyai berbagai taktik dalam pemecahan masalah yang dihadapi oleh siswa.
Proses belajar tidak akan berjalan lancar ketika pendekatan yang dilakukan tidak sesuai dengan kondisi siswanya.
4.      Pendekatan Edukatif
Apa pun yang dilakukan guru dalam pendidikan dan pengajaran memiliki tujuan mendidik, bukan karena motif-motif lain, seperti dendam, gengsi, ingin ditakuti, dan sebagainya. Peserta didik yang telah melakukan kesalahan, yakni membuat keributan di kelas ketika guru sedang memberikan pelajaran, tidak tepat diberikan sanksi hukum dengan cara memukul badannya hingga luka atau cidera. Ini adalah tindakan sanksi hukum yang tidak bernilai pendidikan. Guru telah melakukan pendekatan yang salah. Guru telah menggunakan teori power, yakni teori kekuasaan untuk menundukkan orang lain. Dalam pendidikan, guru akan kurang arif dan bijaksana bila menggunakan kekuasaan karena hal itu bisa merugikan pertumbuhan dan perkembangan kepribadian peserta didik. Pendekatan yang benar bagi guru adalah dengan melakukan pendekatan edukatif. Setiap tindakan, sikap, dan perbuatan yang guru lakukan hams bemilai pendidikan, dengan tujuan untuk mendidik peserta didik agar menghargai norma hukum, norma susila, norma moral, noram sosial, dan norma agama.
Langkah-langkah ;
Cukup banyak sikap dan perbuatan yang harus guru lakukan untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada peserta didik. Salah satu contoh, ketika lonceng tanda masuk kelas telah berbunyi, anak-anak jangan dibiarkan masuk dulu, tetapi suruh mereka bebaris di depan pintu masuk dan perintahkanlah ketua kelas untuk mengatur barisan. Semua anak perempuan berbaris dalam kelompok jenisnya. Demikian juga semua anak laki berbaris dalam kelompok sejenisnya. Jadi, barisan dibentuk menjadi dua dengan pandangan terarah ke pintu masuk. Di sisi pintu masuk guru berdiri sambil mengontrol bagaimana anak-anak berbaris di depan pintu masuk kelas. Semua anak dipersilakan masuk oleh ketua kelas. Mereka pun satu per satu masuk kelas. Mereka satu per satu menyalami guru sambil mencium tangan guru. Akhirnya, semua anak masuk dan pelajaran pun dimulai.
Kelebihan :
Contoh di atas menggambarkan pendekatan edukatif yang telah dilakukan oleh guru dengan menyuruh peserta didik berbaris di depan pintu masuk kelas. Guru telah meletakkan tujuan untuk membina watak peserta didik dengan pendidikan akhlak yang mulia. Guru telah membimbing peserta didik bagaimana cara memimpin kawan-kawannya dan anak-anak lainnya, membina bagaimana cara menghargai orang lain dengan cara mematuhi semua perintahnya yang bernilai kebaikan.
Kelemahan :
Guru yang hanya mengajar di kelas belum tentu dapat menjamin terbentuknya kepribadian peserta didik yang berakhlak mulia. Demikian juga halnya dengan guru yang mengambil jarak dengan peserta didik. Kerawanan hubungan guru dengan peserta didik disebabkan komunikasi antara guru dengan peserta didik yang kurang berjalan harmonis. Kerawanan hubungan ini menjadi kendala bagi guru untuk melakukan pendekatan edukatif kepada peserta didik yang bermasalah.
suistis yang terjadi di sekolah biasanya tidak hanya satu, tetapi bermacam-macam jenis dan tingkat kesukaran. Hal ini menghendaki pendekatan yang tepat. Berbagai kasus yang terjadi, selain ada yang dapat didekati dengan pendekatan individual, ada yang dapat didekati dengan pendekatan kelompok, dan ada pula yang dapat didekati dengan pendekatan bervariasi. Namun yang penting untuk diingat adalah bahwa pendekatan individual harus berdampingan dengan pendekatan edukatif; pendekatan kelompok harus berdampingan dengan pendekatan edukatif, dan pendekatan bervariasi harus berdampingan dengan pendekatan edukatif. Dengan demikian, semua pendekatan yang dilakukan guru harus bernilai edukatif, dengan tujuan untuk mendidik.
Selain berbagai pendekatan yang telah disebutkan di depan, ada pendekatan-pendekatan lain. Berdasarakan kurikulum atau Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) Pendidikan Agama Islam SUP Tahun 1994 disebutkan lima macam pendekatan untuk pendidikan agama Islam, yaitu pendekatan pengalaman, pendekatan pembiasaan, pendekatan emosional, pendekatan rasional, dan pendekatan fungsional. Kelima macam pendekatan ini diajukan, karena pendidikan agama Islam di sekolah umum dilaksanakan melalui kegiatan intra dan ekstra kurikuler yang satu sama lainnya saling menunjang dan saling melengkapi. Kelima pendekatan tersebut dijelaskan sebagai berikut:
5.      Pendekatan Pengalaman
Experience is the -best teacher, pengalaman adalah guru yang terbaik. Pengalaman adalah guru bisu yang tidak pernah marah. Pengalaman adalah guru yang tanpa jiwa, namun selalu dicari oleh siapa pun juga. Belajar dari pengalaman adalah lebih baik daripada sekadar bicara, atau tidak pernah berbuat sama sekali. Belajar adalah kenyataan yang ditunjukkan dengan kegiatan. Karena itu, the proses of learning is doing, reacting, undergoing, experiencing. The products of learning are all achieved by the learner through his own activity. (H.C. Witherington dan W.H. Burton, 1986: 57)
Meskipun pengalaman diperlukan dan selalu dicari selama hidup, namun tidak semua pengalaman bersifat mendidik (educative ex¬perience) karena ada pengalaman yang tidak bersifat mendidik miseducative experience). Suatu pengalaman dikatakan tidak mendidik, bila guru tidak membawa anak ke arah tujuan pendidikan, misalnya “mendidik anak menjadi pencopet.” Karena itu, ciri-ciri pengalaman yang edukatif adalah berpusat pada suatu tujuan yang berarti bagi anak (meaningful), kontinu dengan kehidupan anak, interaktif dengan lingkungan, dan menambah integritas anak.
Betapa tingginya nilai suatu pengalaman, maka disadari akan pentingnya pengalaman itu bagi perkembangan jiwa anak. Sehingga dijadikanlah pengalaman itu sebagai suatu pendekatan. Maka jadilah “pendekatan pengalaman” sebagai frase yang baku dan diakui pemakaiannya dalam pendidikan.
Langkah-langkah :
Contohnya ntuk pendidikan agama Islam, pendekatan pengalaman yaitu suatu pendekatan yang memberikan pengalaman keagamaan kepada siswa dalam rangka penanaman nilai-nilai keagamaan. Dengan pendekatan ini siswa diberi kesempatan untuk mendapatkan pengalaman keagamaan, baik secara individu maipun kelompok. Misalnya, ketika bulan Ramadhan tiba, semua kaum muslimin diwajibkan melaksanakan ibadah puasa. Di malam bulan Ramadhan biasanya setelah kaum muslimin selesai menunaikan Salat Tarawih dilanjutkan dengan kegitan ceramah agama sekitar tujuh menit (kultum) yang disampaikan oleh ulama atau da’ i/guru agama dengan penjadwalan yang telah ditentukan. Para peserta didik biasanya tidak ketinggalan untuk mendengarkan ceramah tersebut. Kegiatan peserta didik ini adalah untuk mendapatkan pengalaman keagamaan. Kegiatan ini untuk peserta didik tertentu biasanya merupakan tugas dari guru mereka dan kemudian mereka harus melaporkannya kepada guru dalam bentuk laporan tertulis yang sudah ditandatangani oleh penceramah.
Untuk pendekatan ini, metode mengajar yang perlu dipertimbangkan untuk digunakan, antara lain adalah metode pemberian tugas (resitasi) dan Tanya- jawab mengenai pengalaman keagamaan peserta didik.
Kelebihan :
Menambah integritas anak
Siswa lebih mudah mengerti tentang suatu pelajaran, karena dia sudah mengalaminya, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Kelemahan :
Jika siswa tidak pernah mendapatkan pengalaman yang sesuai dengan tujuan pelajaran, maka siswa akan kesulitan dalam memahami suatu pelajaran.
6.      Pendekatan Pembiasaan
Pembiasaan adalah alat pendidikan. Bagi anak yang masih kecil, pembiasaan ini sangat penting. Karena dengan pembiasaan itulah akhimya suatu aktivitas akan menjadi milik anak di kemudian hari. Pembiasaan yang baik akan membentuk suatu sosok manusia yang berkepribadian yang baik pula. Sebaliknya, pembiasaan buruk akan membentuk sosok manusia yang berkepribadian buruk pula. Begitulah biasanya yang terlihat dan yang terjadi pada diri seseorang. Karenanya, di dalam kehidupan bermasyarakat, kedua kepribadian yang bertentangan ini selalu ada dan tidak jarang menimbulkan konflik di antara mereka.
Anak kecil tidak seperti orang dewasa yang dapat berpikir abstrak. Anak kecil hanya dapat berpikir konkrit. Kata-kata seperti kebijaksanaan, keadilan, dan perumpamaan adalah contoh kata benda abstrak yang sukar dipikirkan oleh mereka yang belum kuat ingatannya, ia lekas melupakan apa yang sudah dan baru terjadi. Perhatian mereka lekas dan mudah beralih kepada hal-hal yang baru, yang lain, yang disukainya. (M. Ngalim Purwanto, 1991)
Anak kecil memang belum mempunyai kewajiban, tetapi dia sudah mempunyai hak, seperti hak dipelihara, hak dilindungi, hak diberi makanan yang bergizi, dan hak mendapatkan pendidikan. Salah satu cara untuk memberikan haknya di bidang pendidikan adalah dengan cara memberikan kebiasaan yang baik dalam kehidupan mereka. Berdasarkan pembiasaan yang baik di rumah itulah anak terbiasa menurut dan taat kepada peraturan-peraturan yang berlaku di masyarakat dan juga di sekolah.
Langkah-langkah :
Menanamkan kebiasaan yang baik memang tidak mudah dan kadang-kadang makan waktu yang lama. Tetapi sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan sukar untuk diubah. Untuk itu hal yang penting adalah pada awal kehidupan anak, orang tua menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik saja dan jangan sekali-kali mendidik anak berdusta, tidak disiplin, suka berkelahi, dan sebagainya. Tanamkanlah kebiasaan seperti ikhlas melakukan puasa, gemar menolong orang yang kesukaran, suka membantu fakir dan miskin, gemar melakukan salat lima waktu, aktif berpartisipasi dalam kegiatan yang baik-baik, dan sebagainya. Pengaruh lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat tidak bisa dielakkan dalam hal ini.
Kelebihan :
Pendekatan pembiasaan memberikan kesempatan kepada siswa untuk senantiasa mengamalkan pelajaran yang diperoleh baik secara individual maupun secara kelompok dalam kehidupan sehari-hari. Terkait dengan metode mengajar yang perlu dipertimbangkan, antara lain adalah metode latihan (drill), pelaksanaan tugas, demonstrasi dan pengalaman langsung di lapangan.
7.      Pendekatan Emosional.
Nilai perasaan bagi manusia pada umumnya adalah dapat menyesuaikan diri dengan keadaan alam sekitar, seseorang dapat ikut mengalami, menimbulkan rasa senasib dan sekewajiban sebagai manusia (perasaan religius), dapat membedakan antara makhluk bahwa manusia merupakan makhluk yang mempunyai perasaan.
Langkah-langkah :
Emosi atau perasaan adalah sesuatu yang peka. Emosi akan memberi tanggapan (respons) bila ada rangsangan (stimulus) dari luar diri seseorang. Baik rangsangan verbal maupun nonverbal, mempengaruhi kadar emosi seseorang. Rangsangan verbal itu misalnya ceramah, cerita, sindiran, pujian, ejekan, berita, dialog, anjuran, perintah, dan sebagainya sedangkan rangsangan nonverbal dalam bentuk perilaku berupa sikap
Sebelum memberikan pelajaran, guru bisa menganalisis suasana hati siswanya. Jika seorang siswa sedang mengalami masalah, sebaiknya guru menanyakan apa yang sedang dihadapi oleh siswa tersebut dan ikut merasakan seperti itu, kemudian memberikan nasihat, anjuran atau menghiburnya, sehingga suasana hati siswa dapat mencair, dan proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik.
Kelebihan :
-         Guru dapat memahami perasaan siswa
-         Siswa merasa senang dengan guru tersebut dan mau mengikuti pelajaran dengan baik.
Kelemahan  :
-         Bagi guru yang tidak bisa membaca suasana akan sulit menerapkan pendekatan ini.
8.      Pendekatan Rasional
Akal atau rasio memang mempunyai potensi untuk menaklukkan dunia. Tetapi jangan sampai mempertuhankan akal. Karena hal itu akan menggelincirkan keimanan terhadap ajaran agama. Sebaiknya, akal dijadikan alat untuk membuktikan kebenaran ajaran-ajaran agama. Dengan begitu, keyakinan terhadap agama yang dianut bertambah kokoh.
Langkah-langkah :
Di sekolah peserta didik dengan berbagai ilmu pengetahuan. Perkembangan berpikir anak dibimbing ke arah yang lebih baik, sesuai dengan tingkat usia anak. Perkembangan berpikir anak mulai dari yang konkret sampai yang abstrak. Untuk itu pembuktian suatu kebenaran, dalil, prinsip, atau hukum menghendaki dari hal-hal yang sangat sederhana menuju ke kompleks. Pembuktian tentang sesuatu yang berhubungan dengan masalah keagamaan harus sesuai dengan tingkat berpikir anak. Kesalahan pembuktian akan berakibat fatal bagi perkembangan j iwa anak. Usaha yang terpenting bagi guru adalah bagaimana memberikan peranan kepada akal (rasio) dalam memahami dan menerima kebenaran ajaran agama, termasuk mencoba memahami hikmah dan fungsi ajaran agama.
Karena keampuhan akal (rasio) itulah akhirnya dijadikan pendekatan yang disebut pendekatan rasional guna kepentingan pendidikan dan pengajaran di sekolah. Untuk mendukung pemakaian pendekatan ini, maka metode mengajar yang perlu dipertimbangkan antara lain adalah metode ceramah, tanya jawab, diskusi, kerja kelompok, latihan, dan pemberian tugas.
Kelebihan :
-         Cara berpikir siswa akan berkembang
-         Siswa lebih mudah mengerti
Kelemahan :
-         Jika menggunakan metode ceramah dalam pendekatan ini, siswa akan bosan dan kurang aktif.
Bagi guru yang tidak memahami perkembangan berpikir anak, akan kesulitan menerapkan pendekatan ini.
9.      Pendekatan Fungsional
Ilmu pengetahuan yang dipelajari oleh anak di sekolah bukanlah hanya sekadar pengisi otak, tetapi diharapkan berguna bagi kehidupan anak, baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial. Anak dapat memanfaatkan ilmunya untuk kehidupan sehari-hari sesuai dengan tingkat perkembangannya. Bahkan yang lebih penting adalah ilmu pengetahuan dapat membentuk kepribadian anak. Anak dapat merasakan manfaat dari ilmu yang didapatnya di sekolah. Anak mendayagunakan nilai guna dari suatu ilmu sudah fungsional di dalam diri anak.
Langkah-langkah :
Pendekatan fungsional yang diterapkan di sekolah diharapkan dapat menjembatani harapan tersebut. Untuk memperlicin jalan ke arah itu, tentu saja diperlukan penggunaan metode mengajar. Dalam hal ini ada beberapa metode mengajar yang perlu dipertimbangkan, antara lain adalah metode latihan, pemberian tugas, ceramah, tanya jawab, dan demonstrasi.
Kelebihan :
Siswa dapat merasakan manfaat ilmu yang sudah dipelajari di sekolah.
Kelemahan ;
Pendekatan ini tidak dapat diterapkan apabila guru tidak mengetahui bagaimana pengaplikasian suatu materi dalam kehidupan sehari-har
10.  Pendekatan Keagamaan
Pendidikan dan pelajaran di sekolah tidak hanya memberikan satu atau dua macam mata pelajaran, tetapi terdiri dari banyak mata pelajaran. Semua mata pelajaran itu pada umumnya dapat dibagi menjadi mata pelajaran umum dan mata pelajaran agama. Berbagai pendekatan dalam pembahasan terdahulu dapat digunakan untuk kedua jenis mata pelajaran ini. Tentu saja penggunaannya tidak sembarangan, tetapi harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang dicapai. Dalam praktiknya tidak hanya digunakan satu, tetapi bisa juga penggabungan dua atau lebih pendekatan.
Khususnya untuk mata pelajaran umum, sangat berkepentingan dengan pendekatan keagamaan. Hal ini dimaksudkan agar nilai budaya ilmu itu tidak sekuler, tetapi menyatu dengan nilai agama. Dengan penerapan prinsip-prinsip mengajar seperti prinsip korelasi dan sosialisasi, guru dapat menyisipkan pesan-pesan keagamaan untuk semua mata pelajaran umum. Tentu saja guru harus menguasai ajaran-ajaran agama yang sesuai dengan mata pelajaran yang dipegang.
Langkah-langakh :
Misalnya, Mata pelajaran biologi, bukan terpisah dari masalah agama, tetapi ada hubungannya. Cukup banyak dalil agama yang membahas masalah biologi. Persoalannya sekarang terletak pada mau atau tidaknya guru mata pelajaran tersebut mencari dan menggali dalil-dalil dimaksud serta menafsirkannya guna mendukung
penggunaan pendekatan keagamaan dalam pendidikan dan pengajaran. Surah Yaasiin, ayat 34, dan ayat 36, adalah bukti nyata bahwa pelajaran biologi tidak bisa dipisahkan dari ajaran agama. Surah Yaasiin ayat 37, 38, 39, dan 40 adalah dalil-dalil nyata pendukung pendekatan keagamaan dalam mata pelajaran fisika.
Kelebihan :
Akhirnya, pendekatan agama dapat membantu guru untuk memperkecil kerdilnya jiwa agama di dalam diri siswa, yang pada akhir¬nya nilai-nilai agama tidak dicemoohkan dan dilecehkan, tetapi diya¬kini, dipahami, dihayati, dan diamalkan selama hayat siswa di kandung badan.
Kelemahan :
Pendekatan ini tidak akan berhasil jika guru tidak dapat mengaitkan suatu materi dengan dalil-dalil, dikarenakan seorang guru kurang memahami atau tidak mengetahui banyak tentang agama.
11.  Pendekatan kebermaknaan
Dalam rangka penguasaan bahasa asing guru tidak bisa mengabaikan masalah pendekatan yang harus digunakan dalam proses belajar mengajar. Salah satu sebab kegagalan penguasaan bahasa asing oleh siswa, adalah kurang tepatnya pendekatan yang digunakan oleh guru selain faktor lain seperti faktor sejarah, fasilitas, lingkungan serta kompetensi guru. Kegagalan pengajaran tersebut tentu saja tidak boleh dibiarkan begitu saja, karena akan menjadi masalah bagi siswa dalam setiap jenjang pendidikan yang dimasukinya. Karenanya perlu dipecahkan. Salah satu alternatif ke arah pemecahan masalah tersebut diajukanlah pendekatan baru, yaitu pendekatan kebermaknaan. Beberapa konsep penting yang berkaitan dengan pendekatan ini diuraikan sebagai berikut.
1. Bahasa merupakan alat untuk mengungkapkan makna yang diwujudkan malalui struktur (tata bahasa dan kosa kata). Dengan demikian, struktur berperan sebagai alat pengungkapan makna (gagasan, pikiran, pendapat, dan perasaan).
2. Makna ditentukan oleh lingkup kebahasaan maupun lingkup situasi yang merupakan konsep dasar dalam pendekatan kebermaknaan pengajaran bahasa yang natural, didukung oleh pemahaman lintas budaya.
3. Makna dapat diwujudkan melalui kalimat yang berbeda, baik secara lisan maupun tertulis. Suatu kalimat dapat mempunyai makna yang berbeda tergantung pada situasi saat kalimat itu digunakan. Jadi keragaman ujaran diakui keberadaannya dalam bentuk bahasa lisan atau tertulis.
4. Belajar bahasa asing adalah belajar berkomunikasi melalui bahasa tersebut sebagai bahasa sasaran baik secara lisan maupun tertulis. Belajar berkomunikasi ini perlu didukung oleh pembelajaran unsur-¬unsur bahasa sasaran.
5. Motivasi belajar peserta didik merupakan faktor utama yang menentukan keberhasilan belajamya. Kadar motivasi ini banyak ditentukan oleh kadar kebermaknaan bahan pelajaran dan kegiatan pembelajaran yang diikuti peserta didik. Dengan kata lain, kebermaknaan bahan pelajaran dan kegiatan pembelajaran memiliki peranan yang amat penting dalam keberhasilan belajar peserta didik.
6. Bahan pelajaran dan kegiatan pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi peserta didik jika berhubungan dengan pengalaman, minat, tata nilai, dan masa depannya. Karena itu, pengalaman peserta didik dalam lingkungan, minat, tata nilai, dan masa depannya harus dijadikan pertimbangan dalam pengambilan keputusan pengajaran dan pembelajaran untuk membuat pelajaran lebih bermakna bagi siswa.
7. Dalam proses belajar-mengajar, peserta didik merupakan subjek utama, bukan sebagai objek belaka. Karena itu, ciri-ciri dan kebutuhan mereka harus dipertimbangkan dalam segala keputusan yang terkait dengan pengajaran.
8. Dalam proses belajar-mengajar guru berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa mengembangkan keterampilan berbahasanya. Akhimya, perlu diikhtisarkan bahwa ada berbagai pendekatan yang dapat dipergunakan dalam pendidikan dan pengajaran, yaitu pendekatan individual, pendekatan kelompok, pendekatan bervariasi, pendekatan edukatif pendekatan pengalaman, pendekatan pembiasaan, pendekatan emosional, pendekatan rasional, pendekatan fungsional, pendekatan keagamaan, dan pendekatan kebermaknaan.

B.     Metode Pembelajaran

2.1.            Pengertian Metode Pembelajaran
metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran
Menurut Nana Sudjana (2005: 76) metode pembelajaran adalah, “Metode pembelajaran ialah cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran”.
Sedangkan M. Sobri Sutikno (2009: 88) menyatakan, “Metode pembelajaran adalah cara-cara menyajikan materi   pelajaran yang dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses pembelajaran pada diri siswa dalam upaya untuk mencapai tujuan”.
Berdasarkan definisi / pengertian metode pembelajaran yang dikemukakan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran merupakan suatu cara atau strategi yang dilakukan oleh seorang guru agar terjadi proses belajar pada diri siswa untuk mencapai tujuan. Benny A. Pribadi (2009: 11) menyatakan, “tujuan proses pembelajaran adalah agar siswa dapat mencapai kompetensi seperti yang diharapkan. Untuk mencapai tujuan proses pembelajaran perlu dirancang secara sistematik dan sistemik”. Banyak metode yang digunakan seorang guru dalam pembelajaran passing bawah bolavoli, antara lain dengan menggunakan metode pembelajaran inovatif dan konvensional.
2.2.  Macam-macam Metode Pembelajaran
a. Metode Pembelajaran - Metode Ceramah

Metode ceramah merupakan metode yang paling umum atau paling banyak digunakan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran. Metode ceramah merupakan salah satu metode yang digunakan untuk menyampaikan informasi atau materi pelajaran kepada siswa dalam kegiatan pembelajaran. Wina Sanjaya mendefinisikan “ metode ceramahdapat diartikan sebagai cara menyajikan pelajaran melalui penuturan lisan atau penjelasan langsung  kepada sekelompok siswa.” (Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran, h. 147.)

 Metode ceramah adalah metode yang boleh dikatakan metode tradisional, karena sejak dulu metode ini telah dipergunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru dengan anak didik dalam proses belajar mengajar.” (Yatim Riyanto, Pengembangan Kurikulum, h. 27.)   Berdasarkan pendapat tersebut bisa disimpulkan bahwa metode ceramah merupakan metode yang sudah sejak lama digunakan dalam kegiatan pembelajaran, khususnya pada kegiatan pembelajaran yang bersifat konvesional atau pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centered).

Pemilihan metode ceramah pada umumnya digunakan karena sudah menjadi kebiasaan dalam suatu kegiatan pembelajaran. Di samping itu juga, metode ceramahdigunakan karena guru biasanya belum puas kalau dalam kegiatan pembalajaran tidak melakukan ceramah. Demikian juga dengan siswa, mereka akan belajar manakala ada guru yang memberikan materi pelajaran melalui ceramah, sehingga kalau ada guru yang berceramah berarti ada kegiatan pembelajaran dan jika tidak ada guru berarti tidak ada kegiatan pembelajaran.

Ada beberapa alasan yang mengapa metode ceramah  sering digunakan, alasan ini merupakan sekaligus menjadi keunggulannya. Keunggulan-keunggulannya adalah:
  1. Guru mudah menguasai kelas.
  2. Mudah mengorganisasikan tempat duduk/kelas.
  3. Dapat diikuti oleh jumlah siswa yang besar.
  4. Mudah mempersiapkan dan melaksanakannya.
  5. Guru mudah menerangkan pelajaran dengan baik. (Syaiful Bahri Djamarah & Azwan Zain, Strategi Pembelajaran, h. 97.)
Di samping keunggulan-keunggulan tersebut, metode ceramah juga memiliki kelemahan-kelemahan. Kelemahan-kelemahannya adalah:
  1. Mudah terjadi verbalisme (pengertian kata-kata).
  2. Yang visual menjadi rugi, yang auditif (mendengar) yang besar menerimanya.
  3. Bila selalu digunakan dan terlalu lama, membosankan.
  4. Guru menyimpulkan bahwa siswa mengerti dan tertarik pada ceramahnya, ini sukar sekali. (Ibid, h. 97.)

b.   Metode Pembelajaran - Metode Diskusi
metode diskusi adalah cara penyajian pelajaran, di mana siswa-siswa dihadapkan kepada suatu masalah yang bisa berupa pernyataan atau pertanyaan yang bersifat problematis untuk dibahas dan dipecahkan bersama.”(Ibid, h. 87.)

Metode diskusi merupakan salah satu metode pembelajaran yang dilakukan oleh guru  dalam kegiatan pembelajaran dengan memberikan siswa suatu permasalahan untuk diselesaikan bersama-sama. Sehingga akan terjadi interaksi antara dua atau lebih siswa untuk saling bertukar pendapat, informasi, maupun pengalaman masing-masing dalam memecahkan permasalahan yang diberikan oleh guru. Dengan demikian diharapkan tidak akan ada siswa yang pasif.

Tujuan penggunaan metode diskusi dalam kegiatan pembelajaran seperti yang diungkapkan Killen (1998) adalah ” tujuan utama metode ini adalah untuk memecahakan suatau permasalahan, menjawab pertanyaan, menambah dan memahami pengatahuan siswa, serta untuk membuat suatu keputusan.” (Wina Sanjaya,Strategi Pembelajaran, h. 154.)

Metode diskusi sangat tepat digunakan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam bekerjasama untuk memecahkan masalah serta melatih siswa untuk mengeluarkan pendapat secara lisan. Dalam pembelajaran matematika metode diskusi sangat tepat digunakan pada materi-materi yang menantang untuk sama-sama dipecahkan, misalnya materi bangun-bangun geometri, peluang dan konsep bilangan.

Adapun  dalam pelaksanaan metode diskusi, guru harus benar-benar mampu mengorganisasikan siswa sehingga diskusi dapat berjalan seperti yang diharapkan. Menurut Bridges (1979) dalam pelaksanaan metode diskusi, guru harus mengatur kondisi yang memungkinkan agar:
  • Setiap siswa dapat berbicara mengeluarkan gagasan dan pendapatnya.
  • Setiap siswa harus saling mendengar pendapat orang lain.
  • Setiap harus dapat mengumpulkan atau mencatat ide-ide yang dianggap penting.
  •  Melalui diskusi setiap siswa harus dapat mengembangkan pengatahuannya serta memahami isu-isu yang dibicarakan dalam diskusi. (Ibid, h. 155.)
Setiap metode pembelajaran pasti memiliki keunggulan dan kelemahan, begitu juga dengan metode diskusi. Ada beberapa keunggulan dari metode diskusi, yaitu:
  • Siswa memperoleh kesempatan untuk berpikir.
  • Siswa mendapat pelatihan mengeluarkan pendapat, sikap dan aspirasinya secara bebas.
  • Siswa belajar bersikap toleran terhadap teman-temannya.
  • Diskusi dapat menumbuhkan partisipatif aktif dikalangan siswa.
  • Diskusi dapat mengembangkan sikap demokratif, dapat menghargai pendapat orang lain.
  • Dengan diskusi, pelajaran menjadi relevan dengan kebutuhan masyarakat.(Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran (Bandung: Alfabeta, 2008), h. 208.)

Di samping itu juga, ada beberapa kelemahan-kelemahan penggunaan metode diskusi, di antaranya:
  • Diskusi terlalu menyerap waktu.
  • Pada umumnya siswa tidak terlatih untuk melakukan diskusi dan menggunakan waktu diskusi dengan baik, maka kecenderungannya mereka tidak sanggup berdiskusi.
  • Kadang-kadang guru tidak sanggup memahami cara-cara melaksanakan diskusi, maka kecenderungannya diskusi tanya jawab.  (Ibid, h. 209.)

c.  
 Metode Pembelajaran - Metode Tanya Jawab

”Metode tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada siswa,tetapi dapat pula dari siswa kepada guru.”(Syaiful Bahri Djamarah & Azwan Zain, Strategi Belajar, h. 94.)

Jadi, metode tanya jawab adalah interaksi dalam kegiatan  pembelajaran yang dilakukan dengan komunikasi  verbal, yaitu dengan memberikan siswa pertanyaan untuk dijawab, di samping itu juga memberikan kesempatan pada siswa untuk mengajukan pertanyaan kepada guru.

Metode tanya jawab digunakan sebagai sarana untuk menguji penguasaan siswa secara verbal terhadapa materi yang telah dipelajari. Di samping itu, metode jawab memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih memahami pelajaran yang belum dimengerti dengan cara bertanya. Metode tanya jawab sebaiknya digunakan pada materi-materi pelajaran umumnya sulit dimengerti siswa. Dalam hal tersebut guru harus peka mambaca kondidi anak didiknya sebelum memutuskan menggunakan meot tanya jawab.

Keunggulan-keunggulan  dari metode tanya jawab adalah:
  • Pertanyaan menarik dapat menarik dan memusatkan perhatian siswa, sekalipun ketika siswa sedang ribut, yang mengantuk kembali tegar dan hilang kantuknya.
  • Merangsang siswa untuk melatih dan mengembangkan cara berpikir, termasuk daya ingatan.
  • Mengembangkan keberanian dan keterampilan siswa dalam menjawab dan mengemukakan pendapat. (Ibid, h. 95.)
Adapun kelemahan-kelemahan dari metode tanya jawab ini adalah:
  • Siswa merasa takut, apalagi bila kurang dapat mendorong siswa untuk berani, dengan menciptakan suasana yang tidak tegang, melainkan akrab.
  • Tidak mudah membuat pertanyaan yang sesuai dengan tingkat berpikir dan mudah dipahami siswa.
  • Waktu sering banyak terbuang, terutama apabila siswa tidak dapat menjawab pertanyaan sampai dua atau tiga orang.
  • Dalam jumlah siswa yang banyak, tidak mungkin cukup waktu untuk memberikan pertanyaan kepada setiap siswa. (Ibid, h. 95.)

d.  
 Metode Pembelajaran - Metode Demonstrasi
”Metode demonstrasi adalah metode penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu proses, situasi, atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekedar tiruan.”(Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran, h. 152.)
Berdasarkan pendapat tersebut, bahwa metode demonstrasi digunakan untuk memperagakan tentang suatu proses, situasi, atau benda tertentu terkait dengan materi pelajaran yang dipelajari dengan tujuan menyajikan pelajaran dengan lebih konkrit sehingga  materi pelajaran yang disampaikan akan lebih berkesan bagi siswa dan membentuk pemahaman yang mendalam  dan sempurna.
Metode demonstrasi dibutuhkan dalam pembelajaran matematika terutama materi-materi yang membutuhkan alat peraga pembelajaran. Ini untuk menanamkan pemahaman yang mendasar dan konstruktif terhadap materi yang dipelajari. Metode demonstrasi sangat tepat digunakan pada materi Bangun-bangun geometri.

Keunggulan-keunggulan metode demontrasi adalah:
  • Perhatian murid dapat dipusatkan kepada hal-hal yang dianggap penting oleh guru sehingga hal yang penting itu dapat diamati.
  • Dapat membimbing murid ke arah berpikir yang sama dalam satu saluran pikiran yang sama.
  • Ekonomis dalam jam pelajaran di sekolah dan ekonomis dalam waktu yang panjang dapat diperlihatkan melalui demonstrasi dengan waktu yang pendek.
  • Dapat mengurangi kesalaham-kesalahan bila dibandingkan dengan hanya membaca atau mendengarkan, karena murid mendapatkan gambaran yang jelas ari hasil pengamatannya.
  • Karena gerakan dan proses dipertunjukkan maka tidak memerlukan keterangan-keterangan yang banyak.
  • Beberapa persoalan yang menimbulkan pertanyaan atau keraguan dapat diperjelas waktu proses demonstrasi. ( Syaiful Sagala, Konsep dan Makan, h. 211. )

Kelemahan-kelemahan metode demontrasi adalah:
  • Metode ini memerlukan keterampilan guru secara khusus, karena tanpa ditunjang dengan hal itu, pelaksanaan demonstrasi akan tidak efektif.
  • Fasilitas seperti peralatan, tempat, dan biaya yang memadai tidak selalu tersedia dengan baik.
  • Demonstrasi memerlukan kesiapan dan perencanaan yang matang di samping memerlukan waktu yang cukup panjang, yang mungkin terpaksa mengambil waktu atau jam pelajaran lain. (Syaiful Bahri Djamarah & Azwan Zain, Strategi Belajar, h. 91.)

e.   
 Metode Pembelajaran - Metode  Pemberian Tugas dan Resitasi

”Metode resitasi (penugasan) adalah metode penyajian bahan dimana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar.”(Ibid, h. 85.).
Jadi, bisa disimpulkan bahwa metode tugas dan resitasi adalah metode pembelajaran yang dilakukan dengan memberikan tugas tertentu kepada siswa untuk dikerjakan dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan. Tugas yang diberikan guru dapat memperdalam materi pelajaran dan dapat pula mengevaluasi materi yang telah dipelajari. Sehingga siswa akan terangsang untuk belajar  aktif baik secara individual maupun kelompok.

Keunggulan-keunggulan metode tugas dan resitasi adalah:
  • Baik sekali untuk mengisi waktu luang dengan hal-hal yang konstruktif.
  • Memupuk rasa tanggung jawab dalam segala tugas sebab dalam strategi ini siswa harus mempertanggung jawabkan segala sesuatu (tugas) yang telah dikerjakan.
  • Memberikan kebiasaan siswa untuk giat belajar.
  • Memberikan tugas siswa untuk sifat yang praktis. ( Zuhairini, dkk, Metodik Khusus Pendidikan Agama Islam (Surabaya: Usaha Nasional, 1983), h. 98.)

Kelemahan-kelemahan metode tugas dan resitasi adalah:
  • Tidak jarang pekerjaan yang ditugaskan itu diselesaikan dengan meniru pekerjaan orang lain.
  • Karena perbedaan individu, maka tugas apabila diberikan secara umum mungkin beberapa orang diantaranya merasa sukar sedangkan sebagian lainnya merasa mudah menyelesaikan tugas tersebut.
  • Apabila tugas diberikan, lebih-lebih bila itu sukar dikerjakan, maka ketenangan mental para siswa menjadi terpengaruh. (Ali Pande & Imansyah, Didaktik Metode (Surabaya: Usaha Nasional, 1984), h. 92.)

f.   
 Metode Pembelajaran - Metode Eksperimen

”Metode eksperimen (percobaan) adalah cara penyajian pelajaran, di mana siswa melakukan percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajar.”(Syaiful Bahri Djamarah & Azwan Zain, Strategi Belajar, h. 84.).

Dalam kegiatan pembelajaran yang menggunakan metode eksperimen, siswa diiberikan kesempatan untuk mengalami  sendiri atau melakukan sendiri, mengikuti proses, mengamati objek, menganalisis, membuktikan dan menarik kesimpulan tentang suatu permasalahan terkait materi yang diberikan. Peran guru sangat penting pada metode eksperimen, khususnya dalam ketelitiandan kecermatan sehingga tidak terjadi kekeliruan dan kesalahan memaknai kegiatan eksperimen dalam kegiatan pembelajaran.

Pemahaman siswa akan lebih kuat dan mendalam jika siswa diberikan kesempatan untuk mengalami secara langsung dalam suatu proses, analisis dan pengambilan kesimpulan terhadap suatu masalah. Hal ini akan menimbulkan kepercayaan pada siswa bahwa yang dipelajari merupakan suatu yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Pembelajaran matematika dikatakan ilmu pasti, yang artinya bahwa setiap pernyataan dalam matematika dapat dibuktikan secara analitis dan logis. Mengingst  hal tersebut maka metode eksperimen sangat dibutuhkan dalam pembelajaran matematika khususnya pada materi-materi yang membutuhkan keterlibatan siswa secara langsung, misalnya materi Peluang, Konsep bilangan, dan Bangun-bangun geometri.
Keunggulan-keunggulan metode eksperimen adalah:
  • Metode ini dapat membuat siswa lebih percaya atas kebenaran dan kesimpulan berdasarkan percobaannya sendiri dari pada hanya menerima kata guru atau buku saja.
  • Dapat mengembangkan sikap untuk studi eksploratis tentang sains dan teknologi, suatu sikap dari seorang ilmuan.
  • Metode ini didukung oleh azas-azas didaktik modern. (Syaiful Sagala, Konsep dan Makna,h. 220-221.)

Kelemahan-kelemahan metode eksperimen adalah:
  • Metode ini lebih sesuai dengan bidang-bidang sains dan teknologi.
  • Metode ini memerlukan berbagai fasilitas peralatan dan bahan yang tidak selalu mudah diperoleh dan mahal.
  • Metode ini menuntut ketelitian, keuletan dan dan ketabahan.
  • Setiap percobaan tidak selalu memberikan hasil yang diharapkan karena mungkin ada faktor-faktor tertentu yang berada di luar jangkauan kemampuan dan pengendalian. (Syaiful Bahri Djamarah & Azwan Zain, Strategi Belajar, h. 85.)

g.    Metode Pembelajaran - Metode Problem Solving (Pemecahan Masalah)

Metode problem solving (metode pemecahan masalah) merupakan metode pembelajaran yang dilakukan dengan memberikan suatu permasalahan, yang kemudian dicari penyelasainnya dengan dimulai dari mencari data sampai pada kesimpulan. Seperti apa yang ungkapkan oleh Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain bahwa,

Metode problem solving (metode pemecahan masalah) bukan hanya sekedar metode mengajar, tetapi juga merupakan metode berpikir, sebab dalam problem solving dapat menggunakan metode-metode lainnya yang dimulai dengan mencari data sampai kepada menarik kesimpulan. (Ibid, h. 91.) 
Lebih lanjut dikatakan bahwa dalam penggunaan metode problem solving mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
  • Adanya masalah yang jelas untuk dipecahkan.
  • Mencari data atau keterangan yang digunakan untuk memecahkan masalah tersebut.
  • Menetapkan jawaban sementara dari masalah tersebut.
  • Menguji kebenaran jawaban sementara tersebut.
  • Menarik kesimpulan. (Ibid, h. 92.)
Keunggulan-keunggulan metode problem solving (metode pemecahan masalah) adalah:
  • Pemecahan masalah (problem solving) merupakan tehnik yang cukup bagus untuk memahami isi pelajaran.
  • Pemecahan masalah (problem solving) dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan siswa kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa.
  • Pemecahan masalah (problem solving) dapat meningkatkan aktifitas pembelajaran siswa.
  • Pemecahan masalah (problem solving) dapat membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata.
  • Pemecahan masalah (problem solving) dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggungjawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan. 
  • Melalui pemecahan masalah (problem solving) bisa memperlihatkan kepada siswa bahwa setiap mata pelajaran (matematika, IPA, sejarah, dan lain sebagainya), pada dasarnya merupakan cara berpikir, dan sesuatu yang harus dimengerti oleh siswa, bukan hanya sekedar belajar dari guru atau dari buku-buku saja.
  • Pemecahan masalah (problem solving) dianggap lebih menyenangkan dan disukai siswa.
  • Pemecahan masalah (problem solving) dapat mengembangkan kemampuan siswa berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru.
  • Pemecahan masalah (problem solving) dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.
  • Pemecahan masalah (problem solving) dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir. (Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran, h. 220-221.)

Kelemahan-kelemahan metode problem solving (metode pemecahan masalah) adalah:
  • Menentukan suatu masalah yang tingkat kesulitannya sesuai dengan tingkat berpikir siswa, tingkat sekolah dan kelasnya serta pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki siswa, sangat memerlukan kemampuan dan keterampilan guru.
  • Proses belajar mengajar dengan menggunakan metode ini sering memerlukan waktu yang cukup banyak dan sering terpaksa mengambil waktu pelajaran.
  • Mengubah kebiasaan siswa belajar dengan mendengarkan dan menerima informasi dari guru menjadi belajar dengan banyak berpikir memecahkan permasalahan sendiri atau kelompok, yang kadang-kadang memerlukan berbagai sumber belajar, merupakan kesulitan tersendiri bagi siswa. (Syaiful Bahri Djamarah & Azwan Zain, Strategi Belajar, h. 93.)
h.    Metode Tutorial/Bimbingan

Metode tutorial adalah suatu proses pengelolaan pembelajaran yang dilakukan melalui proses bimbingan yang diberikan/dilakukan oleh guru kepada siswa baik secara perorangan atau kelompok kecil siswa. Disamping metoda yang lain, dalam pembelajaran Pendidikan Teknologi Dasar, metoda ini banyak sekali digunakan, khususnya pada saat siswa sudah terlibat dalam kerja kelompok.

Peran guru sebagi fasilitator, moderator, motivator dan pembimbing sangat dibutuhkan oleh siswa untuk mendampingi mereka membahas dan menyelesaikan tugas-tugasnya
Penyelenggaraan metoda tutorial dapat dilakukan seperti contoh berikut ini:
·        Misalkan sebuah kelas dalam bahan ajar Pengerjaan Kayu 2, jam pelajaran pertama digunakan dalam bentuk kegiatan klasikal untuk menjelaskan secara umum tentang teori dan prinsip.
·        Kemudian para siswa dibagi menjadi empat kelompok untuk membahas pokok bahasan yang berbeda, selanjutnya dilakukan rotasi antar kelompok.
·        Sementara para siswa mempelajari maupun mengerjakan tugas-tugas, guru berkeliling diantara para siswa, mendengar, menjelaskan teori, dan membimbing mereka untuk memecahkan problemanya.
·        Dengan bantuan guru, para siswa memperoleh kebiasaan tentang bagaimana mencari informasi yang diperlukan, belajar sendiri dan berfikir sendiri.
Perhatian guru dapat diberikan lebih intensif kepada siswa yang sedang mengoperasikan alat-alat yang belum biasa digunakan.

i.        Metode Karyawisata

    Metode karyawisata adalah suatu metode yang mengajak peserta didik ke suasana di luar kelas. Peserta didik di bawah bimbingan guru diajak menuju ke tempat-tempat yang kongkret, misalnya tempat rekreasi untuk belajar.
    Karyawisata berbeda dengan rekreasi. Karyawisata menghasilkan sesuatu yang dicari, sedangkan rekreasi tidak menghasilkan sesuatu yang dilaporkan selain hanya pengalaman-pengalaman.
j. Metode Sosiodrama
Metode sosiodrama (role playing) adalah suatu cara menyajikan bahan pelajaran dengan mendramasisasikan tingkah laku dalam hubungan social dengan suatu problem, agar peserta didik dapat memecahkan masalah sosial.
Suatu cara mengajar dengan cara pementasan semacam drama atau sandiwara yang diperankan oleh sejumlah siswa dan dengan menggunakan naskah yang telah disiapkan terlebih dahulu.

Tujuan metode ini adalah                                     
 Melatih keterapilan social                         
 Menghilangkan perasaan-perasaan malu dan renda diri
 Mendidik dan mengembangkan kemampuan mengemukakan pendapat
 Membiasakan diri untuk sanggup menerima pendapat orang lain

       Metode sosiodrama bertujuan untuk mempertunjukkan suatu perbuatan dari suatu pesan yang ingin disampaikan dari peristiwa yang pernah dilihat.

      Metode ini juga menjadikan peserta didik menjadi senang, sedih, dan tertawa jika pemerannya dapat menjiwai dengan baik.


k. Metode Individual

      Metode individual adalah suatu metode yang digunakan untuk menciptakan situasi belajar yang berkembang sesuai dengan waktu dan kecepatan masing- masing individu.

      Metode ini biasanya digunakan untuk kepentingan pribadi (privat) atau apabila ditemui ada kelainan pada diri peserta didik. Kebaikan metode individual adalah peserta didik dapat berkembang sesuai dengan kemampuannya dan tidak merasa rendah dibanding temannya.

Kelemahan metode individual adalah peserta didik menjadi kurang berkembang karena mereka belajar tanpa ada motivasi lain dari teman sebayanya.

C.     Model Pembelajaran
3.1.   Pengertian
Pola yang digunakan secara sistematis dalam mengorganisasikan penglaman belajar untuk mencapai tujuan pembeljaran.
1.      Unsur – unsur pembelajaran
a.       Syntak  tahap kegiatan dalam  model tersebut.
b.      System social situasi atau suasana yang berlaku dalam model tersebut.
c.       Prinsip reaksi  pola kegiatan yang menggambarkan bagaimana seharusnya pengajar melihat dan memperlakukan peserta didik.
d.      System pendukung  segala sarana, bahan dan alat yang di perlukan dalam model tersebut.
3.2.            Jenis- jenis model pembelajaran
A.     Model pengolahan informasi
Contoh ; model Pencapaian konsep
1.      Fase – fase data ( syntak )
a.       Penyajian dan identifikasi konsep
Ø      Guru menyajikan  contoh yang sudah di beri label.
Ø      Para pelajar membandingkan cirri – cirri dalam contoh positif dan dalam contoh negative.
b.      Mengetes pencapain konsep
Ø      Para pelajar mengidentifikasi  tambahan contoh yang tidak di beri label dengan menyatakan ‘ia’ atau ‘tidak’.
Ø      Guru menegaskan hipotesis, nama konsep, dan menyatakan  definisi konsep sesuai dengan ciri – ciri yang eksensial.
c.       Menganalisis  strategi berfikir
Ø      Para pelajar mengungkapkan pemikirannya
Ø      Para pelajar mendiskusikan hipotesis dan ciri – ciri konsep.
Ø      Para pelajar mendiskusikan tipe dan jumlah hipotesis.
2.      System social  di kembangkan menjadi dialog bebas.
3.      Prinsip reaksi pengelolaan memberi dukungan dan memberi bantuan  pada peserta didik dalam mempertimbangkan hipotesis, serta memperhatikan peserta didik terhadap contoh yang spesifik.
4.      Sistem pendukung berupa bahan dan data untuk memberikan contoh – contoh.

v     Dampak interaksional
v     Hakekat konsep
v     Strategi pembentukan konsep
v     Penalaran induktif

                        Dampak pengiring
v     Kesadaran akan pilihan pandangan
v     Toleransi terhadap ketidak tentuan logika.
v     Kepekaan terhadap penaran logis dalam komunikasi.

B.     MODEL INTERAKSI SOSIAL
Contoh ; Model penelitian kelompok
1.      Fase – fase data (syntak)
a)      Guru mengemukakan cerita tentang situasi yang mengandung dan menantang.
b)      Guru mendorong terbentuknya  reaksi memecahkan masalah secara berkelompok.
c)      Guru meminta siswa untuk mempelajari  masalah secara mandiri ataupun berkelompok.
2.      System social
a)      Kegiatan kelas berorientasi pada pemecahan masalah.
b)      Guru dan siswa menganalisis masalah secara rinci.
3.      Prinsip reaksi
a)      Guru berperan sebagai pembimbing dan konsultan dalam menghadapi masalah kelompok.
b)      Memberi fasilitas agar siswa dapat bekerja secara kelompok.
4.      System pendukung  tersedianya perpustkaan atau sumber belajar lainnya yang mampu memberikan informasi.
Dampak pngajaran
v     Penerimaan pandangan bahwa ilmu itu  di bahas.
v     Proses kelompok yang efektif dan mampu mengatur diri sendiri
                              Dampak pengiring
v   Memiliki perasaan bahwa siswa bebas untuk belajar kelompok.
v   Menghargai bahwa pentingnya hubungan antar pribadi yang hangat dan rukun.

C.     MODEL PEMBELAJARAN PRIBADI ATAU PERSONAL
Contoh; model pertemuan tatap muka.
1.      Fase – fase data ( syntak )
v     Guru menciptakan suasana agar seluruh siswa tertarik untuk ikut serta.
v     Guru mengemukakan masalah untuk didiskusikan siswa.
2.      System social.
v     Guru memegang kendali kepemimpinan dalam interaksi, serta mendorong siswa untuk turut ambil bagian.
v     Guru bersifat mendorong keberanian siswa untuk membuat keputusan, tetapi guru memutuskan sesuatu untuk siswa.
3.      Prinsip reaksi
v     Guru merasa diri terlibat dengan kehidupan dan masalah siswa.
v     Guru mendorong siswa untuk berani menilai perilaku sendiri, mengambil keputusan mengubahnya, atau menolak perilaku yang tidak bertangguang jawab.
v     Seluruh kelas sebagai kelompok berani mengenali perilaku, mempelajarinya kembali, dan memilih perilaku yang baik dan kemudian diikutinya.
4.      Pendukung keberhasilan belajar
v     Guru yang memiliki kepribadian yang hangat dan menyenangkan.
v     Guru yang berpengalaman melakukan hubungan antar pribadi.
v     Guru yang berkemampuan menciptakan hubungan  persaudaraan, hati terbuka, dan memahami serta menerima orng lain.
v     Guru cakap memimpin diskusi dan membimbing kelas untuk menilai perilaku dan menolak atau menerima perilaku tersebut.

Dampak pengajaran
Ø      Kebebasan dan memimpin diri sendiri.
Ø      Penentuan tujuan dan evaluasi.
                                    Dampak pengiring
Ø      Kebebasan dan memimpin diri sendiri.
Ø      Keterbukaan dan terintegrasi.

D.     MODEL PEMBELAJARAN PERILAKU
Contih model pengawasan diri
1.      Fase – fase data ( syntak )
a)      Guru mengenal bahasan tentang pengawasan diri untuk berperilaku lebih baik.
b)      Guru mengemukakan prinsip – prinsip perilaku yang baik.
c)      Guru mengajak siswa untuk membuat program pengawasan diri.
d)      Guru meminta siswa untuk melaksanakan program pengawasan diri.
2.      System social
a)      Guru mengemukakan aturan perilaku dalam melaksanakan program.
b)       Guru meminta siswa melaksanakan program kegiatan sendiri.
c)      Guru semula melakukan pemantauan, tetapi kemudian mendorong siswa melakukan penilaian atas kegiatannya sendiri.
d)      Siswa melakukan penilaian atas perilaku dan programnya, dan kemudian melakukan penilaian atas perilaku dan programnya sendiri.
3.      Prinsip reaksi
a)      Memberanikan siswa untuk melakukan pengawasan diri sendiri.
b)      Mengingatkan siswa bahwa lingkungan sekitar pada umumnya tidak melakukan pengenalan social dalam arti mendorong siswa berperilaku yang baik seperti harapan sekolah.
c)      Semula guru bertindak sebagai penguat berperilaku baik, kemudian menyerahkan penguat tersebut kepada siswa sendiri.
d)      Guru menjelaskan pentingnya bimbingan intelektual untuk melaksanakan perilaku yang baik dalam kehidupan.
4.      Pendukung keberhasilan belajar
a)      Guru yang memberanikan siswa untuk melakukan pengawasan diri atas perilakunya sendiri.
b)      Siswa melaksanakan program pengwasan diri sendiri.
c)      Siswa berani menilai diri sendiri dan melakukan perbaikan perilakunya sendiri.

Dampak pengajaran
Ø      Menambah perilaku baik yang diinginkan, dan mengurangi perilaku tidak baik yang tak dikehedaki.
Ø       Perolehan metode untuk melakukan pengawasan diri sendiri.
Ø       Pandangan tentang perilaku yang baik ; kesadaran tentang lingkungan yang baik.

                                    Dampak  pengiring
Ø      Perolehan metode untuk melakukan pengawasan diri sendiri.
Ø       Pandangan tentang perilaku yang baik ; kesadaran tentang lingkungan yang baik.

Ø      Rasa mampu untuk melakukan pengawasan diri sendiri dan lingkungan.
Ø      Perolahan harga diri dan percaya diri.

D.     Strategi  Pembelajaran

4.1. Hakikat Strategi Pembelajaran
Strategi pembelajaran adalah cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pelajaran dalam lingkungan pengajaran tertentu, meliputi sifat, lingkup, dan urutan kegiatan yang dapat memberi pengalaman belajar kepada siswa. Strategi pembelajaran terdiri dari teknik (prosedur) dan metode yang akan membawa siswa pada pencapaian tujuan. Jadi, strategi lebih luas daripada metode dan teknik. Ada dua kutub pendekatan yang bertolak belakang, yaitu ekspositori dan discovery. Kedua pendekatan tersebut bermuara dari teori Ausubel yang menggunakan penalaran deduktif (ekspositori) dan teori Bruner yang menggunakan penalaran induktif (discovery). Kedua pendekatan tersebut merupakan suatu kontinum. Dari titik-titik yang terdapat sepanjang garis kontinum itu, terdapat metode-metode pembelajaran dari metode yang berpusat pada guru (ekspositori), seperti ceramah, tanya jawab, demonstrasi, sampai dengan metode yang berpusat pada siswa (discovery/inquiry), seperti eksperimen.




Kegiatan Belajar 2:
Berbagai Jenis Strategi Pembelajaran
Strategi deduktif dimulai dari penampilan prinsip-prinsip yang diketahui ke prinsip-prinsip yang belum diketahui. Sebaliknya, dengan strategi induktif, pembelajaran dimulai dari prinsip-prinsip yang belum diketahui. Strategi ekspositori langsung merupakan strategi yang berpusat pada guru. Guru menyampaikan informasi terstruktur dan memonitor pemahaman belajar, serta memberikan balikan.
Strategi belajar tuntas merupakan suatu strategi yang memberi kesempatan belajar secara individual sampai pebelajar menuntaskan pelajaran sesuai irama belajar masing-masing. Ceramah dan demonstrasi merupakan dua strategi yang pada hakikatnya sama, yaitu guru menyampaikan fakta dan prinsip-prinsip, namun pada demonstrasi sering kali guru menunjukkan (mendemonstrasikan) suatu proses.
Antara pertanyaan dan resitasi terdapat kesamaan yaitu, resitasi juga dapat berupa pertanyaan secara lisan. Praktik merupakan implementasi materi yang telah dipelajari, sedangkan drill dilakukan untuk mengulangi informasi sehingga pebelajar benar-benar memahami materi yang dipelajari. Reviu dilakukan untuk membantu guru menentukan penguasaan materi para pebelajar, baik materi untuk prasyarat maupun materi yang telah diajarkan. Bagi pebelajar, reviu berguna sebagai kesempatan untuk melihat kembali topik tertentu pada waktu lain.

4.2. Pengertian
- Secara umum strategi dapat diartikan sebagai suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dihubungkan dengan belajar mengajar, strategi juga bisa diartikn sebagai pola-pola umum kegiatan guru dan anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan.

Dalam dunia pendidikan, strategi diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (Sanjaya, 2007 : 126).

Kemp (1995) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Dari pendapat tersebut, Dick and Carey (1985) juga menyebutkan bahwa strategi pembelajaran itu adalah suatu set materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar pada siswa (Sanjaya, 2007 : 126).
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran merupakan suatu rencana tindakan (rangkaian kegiatan) yang termasuk juga penggunaan metide dan pemanfaatan berbagai sumber daya/kekuatan dalam pembelajaran. Ini berarti bahwa di dalam penyusunan suatu strategi baru sampai pada proses penyusunan rencana kerja belum sampai pada tindakan. Strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu, artinya disini bahwa arah dari semua keputusan penyusunan strategi adalah pencapaian tujuan, sehingga penyusunan langkah-langkah pembelajaran, pemanfaatan berbagai fasilitas dan sumber belajar semuanya diarahkan dalam upaya pencapaian tujuan. Namun sebelumnya perlu dirumuskan suatu tujuan yang jelas yang dapat diukur keberhasilannya.

Menurut Djamarah (2002 : 5-6) ada empat strategi dasar dalam belajar mengajar yang meliputi hal-hal sebagai berikut:
Mengidentifikasi serta menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku dan kepribadian anak didik sebagaimana yang diharapkan.
Memilih sistem pendekatan belajar mengajar berdasarkan aspirasi dan pandangan hidup masyarakat.
Memilih dan menetapkan prosedur, metode dan teknik belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif sehingga dapat dijadikan pegangan oleh guru dalam menunaikan kegiatan mengajarnya.
Menetapkan norma-norma dan batas minimal keberhasilan atau kriteria serta standar keberhasilan dapat dijadikan pedoman oleh guru dalam melakukan evaluasi hasil kegiatan belajar mengajar yang selanjutnya akan dijadikan umpan balik buat penyempurnaan sistem instruksional yang bersangkutan secara keseluruhan.

Dari batasan di atas, dapat digambarkan bahwa ada empat pokok masalah yang sangat penting yang dapat dan harus dijadikan sebagai pedoman dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar agar dapat berhasil sesuai dengang yang diharapkan.
Pertama, dapat dilihat bahwa apa yang dijadikan sebagai sasaran dari kegiatan belajar mengajar. Sasaran yang dituju harus jelas dan terarah, oleh karena itu maka tujuan dari pengajaran yang dirumuskan harus jelas dan konkret, sehingga mudah dipahami oleh anak didik.

Kedua, memilih cara pendekatan belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif untuk mencapai sasaran. Dan disini dapat dilihat bahwa bagaimana cara seorang guru memandang suatu persoalan, konsep, pengertian dan teori apa yang harus digunakan oleh seorang guru dalam memecahkan masalah suatu kasus, akan mempengaruhi hasilnya.
Ketiga, memilih dan menetapkan prosedur, metode dan teknik belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif. Metode dan teknik penyajian untuk memotivasi anak didik agar mampu menerapkan pengetahuan dan pengalaman untuk memecahkan masalah.
Keempat, menerapkan norma-norma atau kriteria keberhasilan sehingga guru mempunyai pegangan yang dapat dijadikan sebagai ukuran untuk menilai sampai sejauh mana keberhasilan tugas-tugas yang telah dilakukannya. Sehingga suatu program baru bisa diketahui keberhasilannya setelah dilakukan evaluasi. Sistem penilaian dalam kegiatan belajar mengajar merupakan salah satu strategi yang tidak bisa dipisahkan dengan strategi dasar yang lain.

4.3. Macam – macam strategi pembelajaran
Menurut Sanjaya (2007 : 177 – 286) ada beberapa strategi pembelajaran yang harus dilakukan oleh seorang guru:

a.    Strategi pembelajaran eksposit
b.    Strategi pembelajaran inquiry
c.    Strategi pembelajaran berbasis masalah
d.    Strategi pembelajaran peningkatan kemampuan berpikir

Strategi pembelajaran peningkatan kemampuan berpikir merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada kemampuan berpikir siswa. Dalam pembelajaran ini materi pelajaran tidak disajikan begitu saja kepada siswa, akan tetapi siswa dibimbing untuk proses menemukan sendiri konsep yang harus dikuasai melalui proses dialogis yang terus menerus dengan memanfaatkan pengalaman siswa.
Model strategi pembelajaran peningkatan kemampuan berpikir adalah model pembelajaran yang bertumpu kepada pengembangan kemampuan berpikir siswa melalui telaahan fakta-fakta atau pengalaman anak sebagai bahan untuk memecahkan masalah yang diajarkan.
Dari pengertian di atas terdapat beberapa hal yang terkandung di dalam strategi pembelajaran peningkatan kemampuan berpikir. Pertama, strategi pembelajaran ini adalah model pembelajaran yang bertumpu pada pengembangan kemampuan berpikir, artinya tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran adalah bukan sekedar siswa dapat menguasai sejumlah materi pelajaran, akan tetapi bagaimana siswa dapat mengembangkan gagasan-gagasan dan ide-ide melalui kemampuan berbahasa secara verbal.
Kedua, telaahan fakta-fakta sosial atau pengalaman sosial merupakan dasar pengembangan kemampuan berpikir, artinya pengembangan gagasan dan ide-ide didasarkan kepada pengalaman sosial anak dalam kehidupan sehari-hari dan berdasarkan kemampuan anak untuk mendeskripsikan hasil pengamatan mereka terhadap berbagai fakta dan data yang mereka peroleh dalam kehidupan sehari-hari.
Ketiga, sasaran akhir strategi pembelajaran peningkatan kemampuan berpikir adalah kemampuan anak untuk memecahkan masalah-masalah sosial sesuai dengan taraf perkembangan anak.
e.    Strategi pembelajaran kooperatif

Model pembelajaran kelompok adalah rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Ada empat unsur penting dalam strategi pembelajaran kooperatif yaitu: (a) adanya peserta dalam kelompok, (b) adanya aturan kelompok, (c) adanya upaya belajar setiap kelompok, dan (d) adanya tujuan yang harus dicapai dalam kelompok belajar.
Strategi pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran dengan menggunakan sistem pengelompokan/tim kecil, yaitu antara empat sampai enam orang yang mempunyai latar belakang kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, atau suku yang berbeda (heterogen), sistem penilaian dilakukan terhadap kelompok. Setiap kelompok akan memperoleh penghargaan (reward), jika kelompok tersebut menunjukkan prestasi yang dipersyaratkan.
g.    Strategi pembelajaran afektif
Strategi pembelajaran afektif memang berbeda dengan strategi pembelajaran kognitif dan keterampilan. Afektif berhubungan dengan nilai (value), yang sulit diukur, oleh sebab itu menyangkut kesadaran seseorang yang tumbuh dari dalam diri siswa. Dalam batas tertentu memang afeksi dapat muncul dalam kejadian behavioral, akan tetapi penilaiannya untuk sampai pada kesimpulan yang bisa dipertanggung jawabkan membutuhkan ketelitian dan observasi yang terus menerus, dan hal ini tidaklah mudah untuk dilakukan. Apabila menilai perubahan sikap sebagai akibat dari proses pembelajaran yang dilakukan guru di sekolah kita tidak bisa menyimpulkan bahwa sikap anak itu baik, misalnya dilihat dari kebiasaan berbahasa atau sopan santun yang bersangkutan, sebagai akibat dari proses pembelajaran yang dilakukan guru. Mungkin sikap itu terbentuk oleh kebiasaan dalam keluarga dan lingkungan keluarga. 
Strategi pembelajaran afektif pada umumnya menghadapkan siswa pada situasi yang mengandung konflik atau situasi yang problematis. Melalui situasi ini diharapkan siswa dapat mengambil keputusan berdasarkan nilai yang dianggapnya baik.

E.     Tehnik Pembelajaran

5.1. pengertian
Definis Teknik Pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode.
Teknik adalah cara kongkret yang dipakai saat proses pembelajaran berlangsung. Guru dapat berganti- ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama. Satu metode dapat diaplikasikan melalui berbagai teknik pembelajaran
Contoh: penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya relative banyak membutuhkan teknik tersendiri, akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya sedikit, pada kelas yang jumlah siswanya sedikit akan lebih baik menggunakan teknik diskusi tergantung siswa yang aktif dan pasif, dalam hal ini guru dapat berganti teknik sesuai koridor dan metode yang sama.
5.2. Teknik merancang pembelajaran

1.         Identifikasi Tujuan (Identity Instruyctional Goals).
       Tahap awal model ini adalah menentukan apa yang diinginkan agar siswan dapat melakukannya ketika mereka telah menyelesaikan program pengajaran. Definisi tujuan pengajaran mungkin mengacu pada kurikulum tertentu atau mungkin juga berasal dari daftar tujuan sebagai hasil need assesment., atau dari pengalaman praktek dengan kesulitan belajar siswa di dalam kelas.

2.       Melakukan Analisis Instruksional (Conducting a goal Analysis).
                  Setelah mengidentifikasi tujuan pembelajaran, maka akan ditentukan apa tipe belajar yang dibutuhkan siswa. Tujuan yang dianalisis untuk mengidentifikasi keterampilan yang lebih khusus lagi yang harus dipelajari. Analisis ini akan menghasilkan carta atau diagram tentang keterampilan-keterampilan/ konsep dan menunjukkan keterkaitan antara keterampilan konsep tersebut.

3.      Mengidentifikasi Tingkah Laku Awal/ Karakteristik Siswa (Identity Entry Behaviours, Characteristic)
          Ketika melakukan analisis terhadap keterampilan-keterampilan yang perlu dilatihkan dan tahapan prosedur yang perlu dilewati, juga harus dipertimbangkan keterampilan apa yang telah dimiliki siswa saat mulai mengikuti pengajaran. Yang penting juga untuk diidentifikasi adalah karakteristik khusus siswa yang mungkin ada hubungannya dengan rancangan aktivitas-aktivitas pengajaran

4.Merumuskan Tujuan Kinerja (Write Performance Objectives)
                Berdasarkan analisis instruksional dan pernyataan tentang tingkah laku awal siswa, selanjutnya akan dirumuskan pernyataan khusus tentang apa yang harus dilakukan siswa setelah menyelesaikan pembelajaran.

5. Pengembangan Tes Acuan Patokan (developing criterian-referenced test items).
       Pengembangan Tes Acuan Patokan didasarkan pada tujuan yang telah dirumuskan, pengebangan butir assesmen untuk mengukur kemampuan siswa seperti yang diperkirakan dalam tujuan

6. Pengembangan strategi Pengajaran (develop instructional strategy).
       Informasi dari lima tahap sebelumnya, maka selanjutnya akan mengidentifikasi yang akan digunakan untuk mencapai tujuan akhir. Strategi akan meliputi aktivitas preinstruksional, penyampaian informasi, praktek dan balikan, testing, yang dilakukan lewat aktivitas.

7. Pengembangan atau Memilih Pengajaran (develop and select instructional materials).
                Tahap ini akan digunakan strategi pengajaran untuk menghasilkan pengajaran yang meliputi petunjuk untuk siswa, bahan pelajaran, tes dan panduan guru.

8. Merancang dan Melaksanakan Evaluasi Formatif (design and conduct formative evaluation).
Evaluasi dilakukan untuk mengumpulkan data yang akan digunakan untuk mengidentifikasi bagaimana meningkatkan pengajaran.

9. Menulis Perangkat (design and conduct summative evaluation).
Hasil-hasil pada tahap di atas dijadikan dasar untuk menulis perangkat yang dibutuhkan. Hasil perangkat selanjutnya divalidasi dan diujicobakan di kelas/ diimplementasikan di kelas.

10. Revisi Pengajaran (instructional revitions).
Tahap ini mengulangi siklus pengembangan perangkat pengajaran. Data dari evaluasi sumatif yang telah dilakukan pada tahap sebelumnya diringkas dan dianalisis serta diinterpretasikan untuk diidentifikasi kesulitan yang dialami oleh siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Begitu pula masukan dari hasil implementasi dari pakar/validator.

5.3              Jenis jenis teknik pembelajaran
1.      Berpikir-Berpasangan-Berbagi
Siswa diberi pertanyaan untuk dipikir sendiri kerang lebih 5 menit, kemudian diminta untuk mendiskusi kan dengan teman sebelahnya. Setelah itu guru menunjuk salah satu siswa untuk menyampaikan  pendapatn
      Kelebihan:
1. Seluruh siswa  dituntut untuk berpikir
2.      Siswa dapat meningkatkan keberanian.
     Kelemahan:
1.      Tidak semua siswa dapat menyampaikan pendapatnya.

2.      Kolaborasi belajar kelompok
 kelompok di bentuk ketua dan penulis. Setelah itu diberi tugas untuk dibahas   tugas ini berupa pkerjaan rumah hasilnya dibuat berupa makalah atau catatan singkat.
       Kelebihan:
1.      Siswa dapat bertukar pikiran antar sesame.
       Kelemahan:
1.      Tidak semua siswa aktif dalam diskusi
2.      Siswa tidak serius dalam diskusi.

3.      Siswa yang dipimpin sesi tinjawan
           Pengajar hanya bertindak sebagai narasumber dan fasilistor kelompok kelompok kecil siswa diminta untuk mendiskusikan hal hal yang kurang dipahami dengan mengajukan pertanyaan pertanyaan.
      Kelebihan:
1.      Siswa dapat meningkatkan pemahaman pada suatu materi.
      Kelemahan:
1.      Hanya sebagian siswa yang aktif.

4.      Debat
           Diskusi dalam bentuk debat dilakukan dengan memberikan isu yang dikontrofersialkan sehingga terjadi pendapat pendapat yang berbeda dari siswa.
      Kelebihan:
1.      Siswa berani mengumgkapkan pendapat
2.      Siswa dapat mempertahankan argumennya.
      Kelemahan:
1.      Siswa yang sebagai audien bersikap pasif.

5.      Pertanyaan ujian
Untuk mengetahui penguasaan materi siswa tidak hanya memberikan test, namun bias juga meminta siswa untuk membuat soal ujian dan kemudian di jawab oleh siswa lain. Artinya siswa sling bertukaran soal.
Kelebihan;
1.      Siswa dituntut untuk menguasai materi.
Kelemahan:
1.      Pertanyaan yang di ajukan relative mudah
2.      Tidak bisa berpikir kritis

6.      Kelas penelitian
Diberikan untuk sebuah tugas perancangan atau proyek kelas yang cukup besar, tugas ini di berikankan pada awal semester dan di kerjakan dalam waktu yang cukup panjang kemudian di persentasikan.
Kelebihan:
1.      Bisa mendapatkan materi di luar kelas
2.      Bisa refreshing.
kelemahan:
1.      Tingkat bahaya yang cukup tinggi.

7.      Menganalisis study kasus
Pengajar memberikan sebuah studi kasus kepada seluruh siswa dan siswa menganalisis kesalahan pada kasus tersebut dan memberikan solusi.
Kelebihan:
1.      Siswa berpikir kritis
2.      Dapat menerapkan dalam kehidupan sehari hari
Kelemahan:
1.      Teknik ini tidak dapat digunakan secara kontinue.


BAB III
KESIMPULAN

posisi hierarkis dari masing-masing istilah yang dibahas pada bab sebelumnya, dapat divisualisasikan sebagai berikut:
http://akhmadsudrajat.files.wordpress.com/2008/09/model-pembelajaran1.jpg?w=297&h=326

Dalam suatu kegiatan pembelajaran memiliki tahapan-tahapan yang berupa pendekatan, strategi, metode dan teknik, yang mana secara keseluruhan membentuk suatu model pembelajaran.







DAFTAR PUSTAKA
Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosda Karya Remaja.
Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990. Strategi Belajar Mengajar (Diktat Kuliah). Bandung: FPTK-IKIP Bandung.
Udin S. Winataputra. 2003. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.
Wina Senjaya. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar